Aside
0

Aku gak ngerti kenapa orang-orang berlagak lebih mengenal diriku daripada diriku mengenal diriku. Bahkan, orang-orang di sekolah suruh-suruh jadi ketua ini itu. Aku makin gak ngerti. Dengan apa mereka bisa yakin aku bisa jadi ketua yang baik? Aku malasnya minta ampun, aku gak suka ngontrol orang lain, apalagi harus ngontrol orang banyak.

Aside
0

Minggu ini saya cukup dibuat stress dengan 2 pilihan yang berat. Sebenarnya mudah saja, cukup tidak memikirkan hal-hal rumit ini dan teguh dengan pendirian, saya tidak akan pusing lagi. Sekarang, saya hanya punya 2 hari untuk memberi hasil keputusan saya pada semua orang.

Jadi, kemarin Ketua OSIS sekolah saya, dua orang pengurus inti, Kakak kelas yang prestasinya banyak di sekolah, serta beberapa anggota OSIS, dan Kakak kelas yang aktif organisasi, datang ke kelas saya. Waktu itu, saya ada di kelas teman saya. Teman saya berlari memberitahu kalau saya dicari Kakak Ketos. Jadilah saya ke kelas saya. Waktu itu saya kaget sekali, karena Ketos datang dengan orang-orang yang dikenal (banget) di sekolah. Saya pikir, masalah saya sama guru akan dibahas. Dalam hati saya berdoa. HAHA. Eh, ternyata…

Kakak Ketos minta saya untuk mencalonkan diri jadi ketua OSIS. Awalnya ekspresi saya datar saja, tapi lama-kelamaan saya diam dan berpikir… eh?! KETUA OSIS?! GAK SALAH?!

Saya langsung bilang, “Maaf Kak, saya sudah memilih organisasi lain (PMR).” Lalu, Kakak Ketos itu bilang kalau tidak apa-apa mengambil dua organisasi besar, tapi saya tetap kekeuh sama keputusan saya (waktu itu). Kakak-kakak yang lainnya pun marah, mereka bilang kecewa dengan keputusan saya. Saya bilang, ada beberapa teman saya dari kelas lain yang mengatakan kalau mereka ingin mencalonkan diri. Tapi, apa? Mereka malah bilang bersedia mendukung saya dan berjanji akan memilih saya jika saya melakukan hal itu. Waktu dengar itu, saya ketawa. Saya tanyain kenapa mereka milih saya. Saya terharu waktu mereka bilang kalau sekolah butuh Ketos yang ketus kayak saya, yang selalu tepat waktu, gak banyak bacot lah, tidak butuh ketenaran, dan bla bla bla. Mereka bilang sih saya ketus, kalau ngomong terlalu jujur sampai sering bikin sakit hati dengernya tapi bener (?), terus saya rajin, pendirian saya selalu teguh, prinsip dipegang dengan benar, terus mereka bilang apa lagi, ya? Cukup, lah. Ini sudah tersanjung sekali.😄

Waktu dengar begitu, saya terharu. Hohhoho. Saya pikir, selama ini saya dianggap tidak ada. Soalnya, setiap rapat OSIS, pasti tidak ada yang mau duduk di dekat saya, karna saya selalu marahin kalau ribut. Lalu, saya juga gak pernah didekati kakak kelas yang juga anggota OSIS, saya gak pernah ngumpul sama mereka tiap ada event.

Yah, lumayan lega juga, ternyata semua pengorbanan saya selama ini dihargai. Bukannya tidak ikhlas, tapi saya merasa agak aneh kalau saya sudah memberikan semua yang punya, melakukan semua yang terbaik, tapi mereka (anggota OSIS) yang malas-malasan, malah mendapatkan perlakuan istimewa. Ya udah lah, malas ingat kelakuan mereka yang bikin sakit hati, suka telat, kalau rapat cuma main-main, kalau ada event gak mau kerja, dan…. eh, stop it. (“_ _)

Waktu itu saya bohong, saya bilang ke Kakak-kakak itu kalau Ibu saya cuma bolehin saya ambil 1 organisasi supaya bisa fokus belajar. Padahal, selama ini Ibu saya tidak peduli, kok. Haha. Apa yang saya dapatkan? Mereka malah semakin marah, mereka suruh saya berhenti di PMR, mumpung tahap awal belum berjalan (tahap awal masuk PMR di hari minggu nanti nih, mau naik gunung gitu deh, untuk cek kesehatan). Yah, setelah berpikir lama, cukup stress, dengan jelas pun saya kasih tahu ke mereka kalau saya memilih PMR. Waktu itu saya bilang, ada beberapa yang saya tahu mau mencalonkan diri, tapi mereka malah bilang kalau justru itu alasan mereka mendatangi saya, mereka tidak ingin orang-orang itu yang memimpin seluruh siswa. Katanya sih mereka egois, kepingin tenar, ya walau selalu perfect jika memimpin, tapi justru itu yang dilihat berbeda oleh Kakak-kakak ini, katanya mereka terlalu terobsesi menjadi pemimpin, keramahan mereka seperti dibuat-buat. Berarti saya tidak dong, ya? HAHAHAHA. BWEEEK. Saat itu Kakak Ketos bilang kalau dia jauh-jauh dari kelasnya, ngumpulin orang untuk yakinin saya, dan saya cuma beri harapan palsu. Oh, no. Saya kan ndak pernah ngasih harapan? HEHEHE

Setelah itu, saya cerita ke teman kelas yang saya kenal bijak. Tapi malah didengar teman lainnya, mereka malah bilang saya bodoh. Kesempatan tidak datang dua kali, dan menjadi Ketua OSIS adalah impian semua siswa. Oh, ya? Tapi, saya tidak ingin menyakiti diri saya lagi. Sekarang saya ingin menjalani hidup sesuai rencana saya, dan OSIS sudah saya buang jauh-jauh. Saya malas berlaku baik sama guru-guru, apalagi guru yang sudah saya kenal punya moral buruk. Saya malas interaksi dengan adik kelas yang manja.

Sebenarnya sih, ini memang kesempatan brilian saya. Saya memang masuk OSIS cuma untuk balas dendam sama teman-teman, kalau saya bisa melakukan sesuatu yang lebih dari mereka. Saya bukan cuma anak kuper di kelas. Di kelas 10 semester 1, saya bosan liat teman-teman kelas yang menjengkelkan, saya juga capek dihina sama teman kelas. Makanya, saya pun masuk OSIS dan “totalitas” adalah prinsip utama saya waktu itu. Yah, jadilah semester 2 saya di kelas 10 berjalan dengan indah, karena ketika saya menjadi anggota OSIS, beberapa teman saya sudah mulai berhenti mengganggu saya, dan saya dianggap “ada” sama mereka, apalagi setelah MOS, kan saya nge-MOS adik kelas, tuh. Jadi, saya masuk OSIS sebenarnya memang tidak ada harapan apa-apa. HAHAHA.

Ya, masih ada dua hari lagi. Dua hari lagi! Hari jumat, saya akan didatangi lagi. Tapi, sepertinya saya akan memilih PMR. Saya malas menyenangkan semua orang (OSIS). Saya masuk PMR, ingin belajar jadi penolong. Selama ini, saya suka perhatikan anak-anak PMR, kebanyakan dari mereka ternyata introvert, dan Kakak senior di PMR bilang tidak masalah,   saya akan baik-baik saja. Malah, demi PMR, saya mengundurkan diri dari semua organisasi. Entah, saya merasakan sesuatu yang baik akan terjadi bila saya masuk PMR. Aamiin lah, ya.

0

Being Left

“Kamu jangan diam terus, Nak. Ayo keluar, cari teman. Lebih terbuka sedikit, senyum sama orang, kalau kamu punya teman kan enak, ada yang bisa ditempati curhat.”

Ya, masih teringat sekali kalimat-kalimat yang dilontarkan Ibu BP/BK ke saya waktu masih kelas 10. Waktu itu guru matematika sedang ada urusan, jadi Ibu BK yang handle kelas. Ibu BK tanya ke semua murid satu per satu, “Punya pacar?” sampai pertanyaan itu jatuh ke saya,

“Kamu punya pacar.”

“Tidak, Bu.”

“Kok tidak? Teman-temanmu yang tidak punya pacar bilangnya “belum”, artinya ada harapan untuk punya pacar. Kamu tidak ingin punya pacar?”

“Tidak, Bu.”

“Hm, tapi kamu pasti lagi suka sama seorang anak laki-laki, kan? Tidak mungkin umur kamu yang sekarang ini tidak suka sama siapapun.”

“Tidak, Bu.”

“Hahaha, bohong, pasti ada, kan?”

“Tidak, Bu.”

Mungkin saja Ibu BK memahami saya, ia pun membisikkan kalimat tadi,

“Kamu jangan diam terus, Nak. Ayo keluar, cari teman. Lebih terbuka sedikit, senyum sama orang, kalau kamu punya teman kan enak, ada yang bisa ditempati curhat.”

Setelah percakapan yang tidak pernah saya harapkan itu,  semua teman kelas benar-benar melotot ke saya. Huh. Saya memang tidak sedang suka sama siapa pun anak laki-laki!

Mencari teman? Saya tak tahulah, saya takut…

 

 

Saya (dulunya) memiliki sahabat, kami tetangga, dia perempuan, kami sangat akrab, kami dulunya selalu bersama, sampai-sampai kami malas bermain dengan anak lain dan hanya menghabiskan waktu berdua saja, waktu lahir kami cuma beda 5 hari, kita sudah main sama-sama sejak balita, kedua keluarga kami dekat sekali, dia sudah seperti saudariku. Tapi, waktu dan keadaan merubahnya, sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang sempurna, dia punya pacar, dan saya masih tetap masih seperti ini, stay weird, dan… saya memilih untuk masuk di SMA yang berbeda, karna saya tak sanggup melihat dia bersama teman-teman “keren” barunya.

Sebelum itu, teman pertama saya di Yogyakarta, saya kecilnya di Yogya, di sana, saya punya satu teman, dia laki-laki, dia tinggal di samping rumah saya, tapi, suatu hari… dia pindah, tanpa pamit.

Di SD, awal bullying dari teman-teman saya bermula ketika saya membela teman saya yang mukul teman saya pakai penggaris kelas 3 SD. Tapi, karena popularitas anak baru itu, orang yang saya bela malah ke pihak anak baru itu. Saya sedih sekali… sampai kelas 5, ada anak baru lagi, anak perempuan, kebaliknya, anak baru ini dibully sama teman-teman, dan saya selalu membela dia, dia jadi teman sebangku saya sampai kelas 6, namun dia sepertinya tak tahan dibully, dia berubah, memperlihatkan kekayaannya, dan dia pun ikut-ikutan gank yang suka bully saya.

Saya takut punya teman, saya takut ditinggalkan….😥

Masuk SMP, saya memiliki beberapa teman-teman yang baik. Tapi, mereka sekarang sekolah di tempat yang berbeda. Saya stalk jaringan sosial mereka, mereka sekarang berubah, mereka sekarang lebih… keren, populer, dan mereka semua punya gank masing-masing di sekolah mereka.

 

 

Lalu, mengapa saya masih seperti ini? Teman-teman saya berubah, mereka sekarang jadi lebih baik lagi, bukan lagi teman-teman introvert yang senang membaca buku-buku yang tidak diinginkan mayoritas. Saya tidak ada hak untuk melarang mereka, tapi saya seperti… seperti ada penyesalan… penyesalan karna sekarang mereka tak pernah memberi kabar, tidak seperti ketika kami lulus. Namun saya tidak bisa membenci mereka, setidaknya mereka pernah membuat saya tertawa lepas. Saya masih berdoa untuk mereka.

Mungkin karna saya berpikir kalau keluarga saya tidak akan pernah meninggalkan saya, jadi saya tidak perlu memberi tahu mereka semua hal yang pernah menyakiti perasaan saya. ^_^

Rika masih bersama saya. Rika masih seperti dulu, bagaimana pun ia berubah, ia selalu mengingat saya, mungkin itulah alasan saya memberitahu dia segala yang saya alami. Di internet, saya juga punya seorang teman, dan sampai sekarang, kami masih berteman, dan saya percaya sama dia.

Sulit untuk saya percaya dengan orang lain, bahkan pada keluarga sendiri, saya masih kurang bisa percaya. Saat ini, sebenarnya, di kelas ada seseorang yang peduli dengan saya, dan menjadikan saya teman, tapi, entahlah… saya masih berpikir ribuan kali untuk bisa sepenuhnya percaya dengan dia.

 

Karna saya tak ingin ditinggalkan lagi.

0

Mental Illness

Setiap kali saya ingat masa-masa ketika saya di bullying dulu, pasti saya selalu sakit. Contohnya saja hari ini, saya tidak ke sekolah. Tadi pagi saya muntah terus. Kepala saya sakit sekali. Pusing. Tadi malam, semua kenangan buruk itu kembali. Saya jadi tidak terkontrol. Kamar saya acak-acakan. Mungkin ini tidak baik…. untuk seorang gadis. Tapi sungguh, saya tidak tahu harus melakukan apa, karna saya pun tidak tahu harus cerita ke mana, dan barang-barang di kamar saya lah yang jadi korbannya.

Apakah ini penyakit? Setiap setelah bertemu orang yang banyak, atau setiap setelah saya memaksa diri saya menjadi ekstrovert (contohnya menjadi panitia pada suatu event sekolah), pasti malamnya saya demam. Semua ini bukan keinginan saya. Siapa sih yang mau sakit? Tidak ada, kan? Tapi, saya cukup bersyukur, karna kalau saya sakit, saya jadi bisa beristirahat di rumah.

Saat ini saya masih sakit. Tapi, masih ada energi untuk menulis ini. Hm. Saya tidak tahu harus tulis apa lagi. Oke, ini saja. Sekian. :]

0

WHY?

Halo. Balik lagi! Karna saya stress kerjain tugas sekolah, saya mau istirahatkan pikiran dengan nge-blog. Yah, seperti biasa, hanya ingin berbagi cerita dan pikiran, hal-hal yang random, atau curhat…

Saya mau ngeluh, boleh ya? Iya lah, blog ini isinya kan keluhan semua! HAHAHA! Entah mengapa, saya semakin tersiksa dengan lingkungan yang mengharuskan saya berbaur dengan orang-orang banyak. Pada dasarnya, saya benci keramaian. Canggung, itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika saya harus berhadapan orang banyak. Sungguh tidak nyaman. Tapi, apa boleh buat? Keadaan yang memaksa saya untuk mengubah sikap. Untuk menghindari ke-canggung-an itu, saya pun mencoba masuk organisasi sekolah. Saya masuk organisasi sudah sedari kelas X. Iya lah, waktu itu rasanya mau mati karna ndak kuat sama sociality, yang akhirnya, saya mencoba mengembangkan diri dan merubah sikap melalui organisasi. Saya pun masuk OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), ROHIS (Rohani Islam), dan ESPEAK/X-PECT (club debat bahasa Inggris). Well, setelah setahun ini, saya sudah mulai bosan. Mengapa? Saya benci sama pengurus dan anggotanya. Di OSIS, saya pikir di situlah orang-orang disiplin dapat saya temukan. Ternyata tidak sama sekali. Pengurusnya bahkan sering terlambat ketika kita harus rapat. Ketua selalu memberi ancaman, bahkan pernah saya push up 15x di depan seluruh pengurus karena saya datang terlambat (sesuai dengan peraturan rapat), dan tahu apa yang saya dapatkan setelah itu? Ketuanya bilang, “hahaha, kenapa push up! Becanda!!!” hih! Saya paling tidak suka dipermainkan. Kata teman-teman saya sih, saya terlalu menganggap semuanya serius, jadilah saya sering jadi bahan lelucon pengurus OSIS, seperti dibohongi harus pakai ini rapat nanti, bawa ini, harus begini, yang sebetulnya ternyata hanya bercanda, bagi saya… hal itu tidak ada lucunya sama sekali. Apalagi, ada beberapa pengurus yang seangkatan dengan saya, yang ‘mungkin’ saja, mereka keracunan dengan definisi ‘kepemimpinan’. Seakan-akan, mereka harus dihormati semua warga sekolah, “woi, nih, gue anak OSIS!” padahal, bagi saya, mereka terlihat lucu dengan lagak dan attitude mereka yang ingin terlihat berkelas, justru membuat mereka seperti anak TK yang baru dapat nilai ulangan 100. HAHAHA.

Di ROHIS? Well, di sini saya menemukan teman-teman yang baik. Namun, saya kecewa, karena mereka malas. Setiap tarbiyah, saya selalu berusaha untuk selalu hadir, mengikuti seluruh lomba, dan mengikuti seminar-seminar, tapi selalu saja hanya 2-3 orang yang selalu saya temui. Giliran ada acara yang mengharuskan anggotanya jadi panitia, semuanya baru hadir. Astaga.

ESPEAK? Hih. Ini entah club, ekskul, organisasi atau apa. Ketuanya ndak pernah ngurus, padahal dia sendiri yang bilang mampu mengurus. Ya sudah deh, terserah dia. Saya juga sudah bosan liat orang yang omongannya tidak ditepati.

 

BOSAN. Mungkin itu yang selalu ada di benak saya. Saya bosan liat manusia-manusia di sekitar saya. Mereka melakukan hal-hal yang membuat saya mual, tidak masuk di akal saya, dll. Saya bahkan sering bertanya-tanya, “mengapa saya masih di sini? Apa yang saya perbuat?”

Kalau saya boleh complain, mungkin tidak akan ada habisnya, seperti:

Mengapa saya harus tersenyum pada semua orang yang saya temui? Well, Ibu bilang, itu adalah salah satu cara untuk menjaga tali silaturahmi yang paling mudah. EMANG HARUS, YAH? Pft.

Mengapa orang-orang di sekolah sulit mencerna kata-kata saya?

Mengapa saya dianggap aneh? Saya normal. Melakukan hal yang normal.

Mengapa saya di cap anak yang galau? HIH, PADAHAL CUMA MAU CARI TEMPAT YANG TENANG, ITU SAJA, KOK. -._.-

MENGAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!

 

Hening sejenak….

 

Dan, daripada saya nantinya sinting karna manusia-manusia itu, lebih baik saya terima saja, lah. Ya sudah, lah. Mau gimana lagi? Kalaupun boleh milih, saya lebih pingin ketemu alien dan berteman sama mereka. Atau, menemui semua kembaran saya, entah di mana mereka berada. Saya malas, malas ngomong sama orang yang bahasannya monoton, pingin sekali rasanya ketemu di sekolah sama manusia unik. Tiap hari, di sekolah… saya lebih suka cari tempat yang tenang, sendiri, lalu buat jadwal aktivitas, hitung pengeluaran dan pemasukan uang jajan, atau menulis apa-apa yang pingin saya beli. MWAHAHAHAH. Di kelas, saya selalu ngeliat ke jendela, berharap ada Om Batman atau Abang Spiderman mau tolong saya keluar dari kelas, atau saya sendiri yang lompat dari jendela kemudian terbang ke langit. *sigh*

Oh iya, sekarang saya sudah lepas tanggung jawab sama OSIS. Sebentar lagi, saya akan mengembalikan almamater! Yippi. Sekarang, saya lagi daftar PMR. Karna saya tahu, persaudaraan di PMR itu kuat sekali, apalagi anggota PMR yang saya kenal semuanya orang-orang yang benar-benar berjiwa kepemimpunan, dan berharap banyak saya bisa menghilangkan ke-awkward-an saya selama ini. CAYO! HAHAHA!

0

DISKRIMINASI

Sebetulnya saya kepingin sekali tulis ini sejak lama, tangan saya gatel pingin cerita tentang ini, tapi, saya tidak tahu harus cerita ke mana, di mana, pada siapa. Ya udah lah, sharing saja, saya akan cerita di sini. Sebenarnya, saya udah tulis sejak lama, tapi saya kira post-nya kesimpen di draft, tapi pas saya cari-cari, tidak ada, pffffffffffffft. Oke singkat saja ya, jadi ceritanya begini…

Saya pernah bikin masalah besar waktu saya masih kelas X (SMA kelas 1). Waktu itu, guru bahasa Inggris buat study banding. Kita (saya dan teman-teman kelas) diperbolehkan untuk mau wisata ke mana, asal sanggup bayar, terus kita dibagi jadi 9 kelompok, saya ditunjuk jadi ketua kelompok (ditunjuk guru dan teman-teman), padahal saya tidak pernah berharap ada di posisi sialan itu. Setiap ketua, harus cari anggotanya sendiri. Dan dengan berusaha menghilangkan kemalasan saya untuk teriak, setelah mengumpulkan energi saya untuk teriak (karna saya malas tanya satu-satu seperti ketua lainnya), saya pun teriak, “YANG MAU SEKELOMPOK SAMA SAYA, SINI!”

Wuih. Banyak. Melebihi kapasitas.

Dan setelah menimbang-nimbang, siapa yang tidak akan sakit hati kalau saya keluarkan karna banyaknya yang mau (cieee), saya pun musyawarah sama anggota kelompok saya dengan menulis di kertas nominasi tempat-tempat yang akan kami kunjungi, lalu saya robek-robek, dan bagi ke mereka. Hasilnya? Mereka memilih tempat di kota ini, sedangkan kelompok lain ingin keluar kota. Alasannya cukup membuat saya puas, selain menghemat biaya, lagi pula, ini kan ujung-ujungnya cuma untuk makalah. Jadi, untuk apa jauh-jauh, di kota ini banyak kok yang menarik, kami memilih museum.🙂

Kampretnya, dua anggota kelompok saya meminta saya untuk mengusulkan ke guru yang sama kampretnya itu kalau mereka ke sananya mau berangkat sendiri, karna lokasinya dekat dengan rumah mereka. Hal yang lebih kampret pun terjadi, entah guru itu lagi menstruasi, lagi ada masalah di rumahnya, atau apa, saya cuma bilang, “Bu, dua teman saya mau ke sana naik motor. Boleh tidak?” dia langsung berubah seperti Mak lampir, begitu menakutkan. “UDAH, SAYA TIDAK MAU URUS KELOMPOK KALIAN. KALIAN TIDAK BISA DIURUS TERNYATA. KALAU ADA APA-APA DALAM PERJALANAN, SIAPA YANG TANGGUNG JAWAB? SAYA KAN?” well, setelah Mak lampir itu ngedumel, kelompok saya dianggap gagal, padahal study banding ini untuk nilai ulangan harian 1. Anggota saya pun menyuruh saya untuk minta maaf sama guru itu. Well, saya bukan tipe orang yang seperti itu. Saya malas minta maaf. Lagipula, saya tidak tahu salah saya apa! Saya rasa, omongan saya sudah cukup sopan, mengapa dia begitu jutek?! GR. Ya udah, sepulang sekolah, saya ke rumah Mak lampir itu untuk minta maaf. Lamaaaaa sekali saya nunggu dia. Hampir 2 jam, lho! Tapi, apa yang saya dapat ketika saya minta maaf? Dia bilang gini, “kamu kayak baru kenal saya saja!”

Cih! Emang lo sape? Saya cuma minta maaf. Bukannya mau meminta agar study banding itu dibolehkan lagi. WAKTU ITU RASANYA SAYA MAU TEMBAK DIA, BAKAR RUMAH DIA, TULIS NAMA DIA DI DEATH NOTE, WELL SAYA BUTUH SHINIGAMI ATAU HOLLOW, tapi saya cuma bisa menghela napas…. sigh sigh sigh.

Karna itu, saya jadi dimusuhin sama anggota teman kelompok saya. Setiap pelajaran bahasa Inggris, selalu saya yang disiksa, disuruh jawab, entah apa dipikiran iblis itu, dia selalu mau mempermalukan saya. Hampir saja saya bunuh diri waktu itu.

Sampai suatu hari….

Mak lampir itu dapat surat kaleng, surat burung, atau surat apalah namanya, pokoknya dia dikasih surat anonymous gitu deh di mejanya. Isi suratnya sih panjang, banyak, tapi intinya, “mengapa study banding begitu jauh? Saya khawatir sama anak-anak. Lebih baik ke museum saja, toh anak-anak bisa dapat pelajaran yang banyak.” DAN APA SELANJUTNYA, PEMIRSAAAH? SAYA DITUDUH LAGI, MAMEN! Dia nanya saya, “kamu tahu tentang surat ini?” dengan pasang muka polos, karna emang saya juga kaget sama surat itu (isinya frontal banget, bok!) saya bilang, “tidak tahu.” Ya, cuma itu. Dia curiga, soale kelompok saya ‘rencananya’ ke museum. HIH! Nape lo gak nanya tuh sama yang mau pergi jauh?! KAMPRET! Semua teman saya liatin saya, saya rasanya pingin bunuh iblis itu pada waktu itu juga. Cukup lah saya disakitin.

Beberapa waktu berlalu, ujian MID Semester berlalu, masuk semester II, penyiksaan itu terus berlanjut, tiba-tiba kepala sekolah saya diganti. Dari awal masalah itu, hingga semester II, emang guru-guru suka gossipin dia, dan saya selalu berusaha membela Iblis itu, saya suka bilang, “gak lho bu, dia kasih surat izin kok, jadi kalau study bandingnya jauh, ada surat izin sebagai bukti kalau diijinkan.”

Dan, tiba-tiba Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya. Saya dikasih sahabat saya, walau dia sudah janji untuk gak kasih tau siapa-siapa, padahal dia sudah sumpahan sama teman kelasnya untuk tidak kasih tahu saya, tapi dia kasih tau saya, muahahah. Tapi, sebenarnya dia ndak kasih tau saya (lho?), kita main Q&A. Saya tanya, lalu dia jawab. Cukup ribet, tapi itu satu-satunya cara supaya dia tidak melanggar sumpahnya.

Ternyata, surat itu berasal dari kerabat (om) salah satu murid yang ingin wisata di tempat yang cukup jauh. Kerabat murid itu kerja di dinas, dia yang kirim surat kaleng itu, lalu dia laporin kepala sekolah saya kalau dia membahayakan murid, dan itu adalah pertama kalinya bahasa Inggris buat study banding, masalah itu jadi besar, dan secara rahasia, kepala sekolah diganti.

Well, semua terbukti BUKAN SALAH SAYA. BUKAN SAYA YANG KIRIM SURAT ITU. Tapi, sayang sekali, semua itu dirahasiakan pada si Mak lampir. Denger-denger sih, Bapak Kepsek itu berkorban supaya guru itu tidak dituntuh. Wah baik, ya?

Saya depresi. Saya mau kasih tau Mak lampir kalau bukan saya yang kirim surat itu. Bukan saya yang buat surat dengan kata-kata menyakitkan hati dia itu. Saya mau menyudahi penyiksaan batin ini, tapi saya takut, kalau saya kasih tahu Mak lampir, saya takut kalau sahabat saya terlibat, karna dia yang kasih tahu saya. Sebenarnya sih, sudah banyak yang tahu, karna secara frontal, murid yang om-nya laporin kepsek itu cerita ke teman-teman kelasnya, dia sekelas sama sahabat saya.

DAN TAHU, TIDAK?! MURID ITU JADI TEMAN SEBANGKU SAYA SEKARANG. DURH! TIAP SAYA LIAT MUKA DIA, SAYA MAU CABIK-CABIK! SAYA KESAL! KENAPA DIA TIDAK KASIH TAU MAK LAMPIR KALAU SURAT ITU BUKAN SAYA YANG BUAT! SAYA TERTUDUH TERUS! HEY ORANG-ORANG BAIK, MENGAPA KALIAN DIAM SAJA? PADAHAL KALIAN TAHU KEBENARANNYA!😥

Karna gagalnya study banding kelompok saya, pada akhir semester, pada saat akan penerimaan rapor, secara mendadak, dia suruh saya beli buku dengan kasih judul-judul buku yang sulit dicari. KAMPRET! Sebenarnya saya tidak harus melakukan ini, saya tidak salah apa-apa, tapi karna saya kasihan lihat anggota kelompok saya yang sama kampretnya, saya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Saya nangis. Saya curhat ke wali kelas. Tapi, dia malah bikin kaget saya! Dia bilang, sebenarnya saya dan anggota kelompok saya nilai bahasa Inggrisnya sudah bagus, di atas 8! Karna penulisan nilai sudah fix dan tidak bisa diperbaiki lagi, jadi kalau pun saya memohon nilai atau apalah, percuma. Tapi, wali kelas saya bilang, lebih baik saya ikutan kemauan guru itu, dia suruh saya untuk berhenti buat masalah.

DUNIA, SAYA SALAH APA, SIH? MASALAH APA? SAYA ANAK BAIK TAK PERNAH BUAT MASALAH. MASALAH YANG MENGHAMPIRI SAYA. ORANG-ORANG BAIK BANYAK, MEREKA TAHU MANA YANG BENAR, TAPI MEREKA DIAM. Cit!

Jadilah saya puterin satu kota cari buku-buku, saya dikasih waktu 3 hari. Hari pertama, saya dapat beberapa. Hari kedua, saya sudah dapat semua, dan secara mendadak, Mak lampir nelpon suruh saya ke rumah dia bawa buku itu, atau nilai saya akan dikosongkan. Jahat, kan?🙂

Jadi, saya ke rumah dia. Hal kampret apa yang terjadi? Dia bilang saya salah bawa buku! Padahal temanya sama, kok. Udah salah, dia tetap ambil buku itu. Lalu dia kasih saya judul buku lain, dan waktunya tinggal 1 hari. GILA! INI MANUSIA ATAU ALIEN, IBLIS, ATAU APA SIH? GAK ADA HATI!

Dengan energi yang tinggal sedikit, kepala pusing, badan capek semua karna dua hari full nyari buku dan teman-teman suruh saya tanggung jawab sebagai ketua, saya pun pergi dari Mall ke Mall, toko buku semua saya masukin, akhirnya saya dapat buku itu.

Lalu setelah dapat buku itu, saya tidak pulang. Saya langsung ke rumah dia. Setelah dia ambil, saya ndak ngomong banyak, lalu saya balap ke rumah. Saya teriak-teriak di jalanan. Saya benci Mak lampir itu! Saya benci murid yang ngelapor itu! Saya benci semua orang! Saya benci SMA!😥

 

Jadi, gitulah. Ya, gitu deh. Sampai saat ini saya pikir, “saya salah masuk SMA, gurunya yang jahat, atau saya memang tidak pantas dihargai?” I HATE PEOPLE.

0

Partner?

Entah mengapa, saya mulai tidak suka dengan teman sebangku saya. Sungguh, sejak awal saya memang sudah dikasih warning sama orang-orang di sekolah dan yes, semuanya terbukti. Semua hal yang saya lakukan sama sekali tidak ada timbal baliknya. Oh okay, saya emang pernah bilang sama dia, “saya malas dibantuin, saya lebih suka kerja sendiri, entah mengapa… saya justru senang melakukan semuanya sendiri, karena you know, kepuasaan dan kebanggaan ketika kita berhasil melakukan sesuatu sendiri itu berbeda ketimbang kita dibantu, tapi… walaupun begitu, ada kalanya saya butuh seseorang, namun saya akan selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri, intinya sih, saya lebih suka membantu daripada dibantu.”

Tapi, tidak seperti yang saya bayangkan, dia malah memanfaatkan saya.

Ya, saya tidak tega melihat dia kesusahan, entah mengapa, mungkin karna sejak awal, sahabat saya bilang kalau dia baik, jadi apapun itu, saya berusaha berpikir positif kalau dia sebenarnya baik. Tapi, saya sudah LELAH dan BOSAN. Saya tidak pernah dianggap ada. Selama ini, kalau ada PR, saya suka bantu dia, tapi kalau saya kesusahan, ke mana dia? Kalau saya ngomong, sekalipun dia tidak pernah setuju, tidak pernah mengatakan “iya”, saya ngomong mana pernah digubris! Saya lelah…

Hingga akhirnya saya sadar, kalau gara-gara dia, saya jadi pisah sama sahabat saya. Padahal, kalau bukan karna omongan sahabat saya, kalau bukan diyakinkan sama sahabat saya, mungkin saya tidak akan capek-capek berkorban untuk dia. Setiap hari, saya tungguin dia rapat organisasi, lalu saya antar dia pulang. Bahkan pernah dia butuh internet untuk kerja tugas organisasi, saya tungguin dia rapat organisasi, lalu saya antar pulang, kemudian saya jemput dia lagi, lalu saya bawa ke rumah saya untuk kerja tugas dia itu sampai malam, malamnya saya antar pulang lagi. Hal itu terjadi seminggu full. Capek, gak? Capek lah! Mana macet, laper, PR-PR saya terbengkalai karna dia (soalnya dia pakai laptop saya, jadi saya baru bisa kerja PR kalau dia udah pulang), sampai Ibu saya marah, kami bertengkar, dan saya nyerah, lalu bilang sama dia, “Minta maaf, saya ndak bisa bantu lagi.” sejak saat itu, dia jadi cuek sama saya, saya ngomong, kayak angin lalu… diliat aja enggak, gimana dijawab?! Saya lelah, pengorbanan saya selama ini seperti debu saja, tidak ada artinya, tidak bisakah dihargai walau cuma bilang “ma kasih”, itu rasanya cukup, tapi, tidak ada penghargaan sama sekali. SAYA MUAK. Saya selalu bantu dia, tapi kalau saya butuh, dia tidak pernah ada untuk saya. Dia mau beli buku, saya anterin dia! Saya bolos latihan volley cuma karna untuk antar dia, padahal bulan berikutnya ada lomba.

Saya baru sadar, selama ini, saya bahkan selalu mengerjakan semuanya sendiri, kapan dia ikut andil? Tidak pernah. Saya seperti kambing di dekat dia. Sudah banyak hal-hal yang memalukan yang saya alami. Apalagi kalau dia lagi sama teman se-organisasi-dia, wuih, dia ndak pernah tuh sapa saya, saya sapa aja ndak dijawab.

 

DADAH. AKU BENCI SAMA KAMU. DADAH.